top of page

Yukata, Pakaian Tradisional Warga Negara Jepang

27-02-2019 Pernah dengar Yukata? Yukata (浴衣?, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas. Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.

Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding. Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.


Istilah yukata berasal dari kata yukatabira (浴衣帷子?). Mulanya katabira dipakai untuk menyebut sehelai kimono dari kain rami. Walaupun tidak lagi dibuat dari kain rami, pakaian seperti itu tetap disebut katabira.[1] Kimono kain rami dipakai sebagai pakaian sewaktu mandi berendam, namun akhirnya berubah fungsi sebagai pakaian sesudah mandi. Ketika rumah-rumah di Jepang belum memiliki kamar mandi, yukata dipakai orang untuk pergi ke pemandian umum. Dalam kamus Wamyō Ruijushō dari pertengahan zaman Heian, yukatabira (湯帷子?) dijelaskan sebagai pakaian yang dikenakan sewaktu mandi berendam. Ketika itu, orang mandi sambil memakai yukatabira di pemandian umum, dan dipakai untuk mengelap keringat, sekaligus menutupi ketelanjangan dari orang lain. Bahan yukatabira adalah kain rami yang cepat kering kalau diperas.


Sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama, yukatabira dipakai orang sebagai pakaian sesudah mandi, untuk menyerap basah seusai mandi. Kalangan rakyat zaman Edo sangat menyenangi yukatabira hingga disingkat sebagai yukata. Ketika itu, yukata bukanlah pakaian sopan yang dipakai untuk bertemu dengan orang lain, melainkan hanya pakaian tidur. Berbeda dari kimono jenis lainnya, menjahit yukata sangat mudah. Yukata memiliki pola yang sangat sederhana, dan dijahit tanpa kain pelapis di bagian pinggul atau pundak. Hingga seusai Perang Dunia II, cara menjahit yukata diajarkan kepada murid perempuan sekolah menengah umum di Jepang.


Bahan yukata pria umumnya berwarna dasar gelap (hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Wanita biasanya mengenakan yukata dari bahan berwarna dasar cerah atau warna pastel dengan corak aneka warna yang terang. Walaupun umumnya dibuat dari kain katun, yukata zaman sekarang juga dibuat dari tekstil campuran, seperti katun bercampur poliester. Berbeda dengan kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang menjualnya, yukata siap pakai dalam berbagai ukuran dijual toko dengan harga terjangkau. Corak kain yang populer untuk yukata wanita, misalnya bunga sakura, seruni, poppy, bunga-bunga musim panas. atau ikan mas koki. Karakter anime seperti Hamtaro, Pokemon, dan Hello Kitty populer sebagai corak yukata untuk anak-anak.

Hotel atau ryokan di Jepang menyediakan yukata untuk dipakai tamu sebagai pakaian tidur. Sebagai pakaian tidur, yukata bisa dikenakan begitu saja tanpa mengenakan pakaian dalam. Ketika dipakai pria untuk keluar rumah, yukata biasanya dikenakan tanpa kaus dalam, dan cukup memakai celana dalam atau celana pendek. Berbeda dengan kimono yang dikenakan dengan dua lapis pakaian dalam (hadajubandan juban), sewaktu mengenakan yukata, wanita hanya perlu hadajuban (pakaian dalam lapis pertama). Alas kaki sewaktu memakai yukata adalah geta.


Yukata dikencangkan ke tubuh pemakai dengan obi yang lebarnya setengah dari lebar obi untuk kimono jenis lain. Di antara berbagai jenis simpul obi untuk yukata, bentuk simpul yang paling populer adalah simpul bunko yang berbentuk kupu-kupu. Bila tidak bisa membuat simpul, toko kimono menjual simpul obi yang sudah jadi dan tinggal disisipkan pada obi. Wanita mengenakan yukata yang pas dengan ukuran tubuh pemakai agar terlihat bagus sewaktu dipakai. Seperti halnya kimono, panjang yukata selalu melebihi tinggi badan pemakai. Perlengkapan memakai yukata wanita:

- rok panjang (susoyoke) sebagai pakaian dalam, berwarna putih polos.

- pakaian dalam (hadajuban)

- tali pinggang (koshihimo) untuk mengencangkan kain berlebih di bagian pinggang yang berasal dari kelebihan panjang kain pada bagian bawah

- kain sabuk pengikat (datejime) untuk mengencangkan kain yang longgar di bagian perut

- Obi untuk mengencangkan yukata ke badan.

Ada beberapa tempat untuk menggunakan Yukata, diantaranya :

1. Festival Hanabi

Yukata tidak memiliki lapisan dan terbuat dari kain katun yang dapat dilalui udara (breathable). Pakaian ini populer untuk digunakan dalam acara-acara festival musim panas, seperti misalya acara peluncuran kembang api. Festival-festival ini telah lama diadakan untuk mengusir roh-roh jahat dan biasanya diramaikan pula dengan keberadaan kios-kios makanan jalanan dan acara-acara hiburan.


2. Festival Bon Odori

Yukata menjadi pakaian tradisional untuk festival Bon Odori Buddha Jepang yang diselenggarakan di seluruh negeri selama bulan-bulan musim panas dalam rangka menghormati arwah para pendahulu. Festival ini menampilkan tarian-tarian rakyat tradisional yang dikenal dengan nama Bon Odori dan dibawakan dengan menggunakan yukata untuk menyambut roh-roh mereka yang telah mati dan mengunjungi kembali altar di rumah mereka.


3. Ryokan

Yukata juga merupakan pakaian tradisional untuk para tamu yang menginap di sebuah ryokan dan dipakai setelah berendam di pemandian air panas onsen. Yukata merupakan cara sederhana utuk menutupi tubuh dengan cepat ketika melangkah keluar dari pemandian umum dan membantu penyerapan kelembaban tubuh. Yukata di Ryokan cenderung lebih longgar daripada yukata regular, karena memang didesain untuk digunakan saat santai dan kebanyakan ryokan menyediakan yukata untuk tamu-tamunya. Berkeliling kota onsen bersejarah Jepang sambil menggunakan yukata dan geta telah menjadi pengalaman klasik bagi wisatawan yang datang ke Jepang. Semoga artikelnya bermanfaat yaaa 😊



Untuk Info lebih lanjut mengenai pembelajaran bahasa Jepang dapat menghubungi :

Admin : +6285266840608

Admin : +6285266101952

Instagram : Bamboocyberschool

Facebook : Bamboocyberschoo

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Jepang, AS, Korsel Diskusikan Pergerakan Mata Uang

Para menteri keuangan Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan menyatakan akan terus berkonsultasi erat mengenai perkembangan pasar valuta asing. Komentar tersebut disampaikan setelah mata uang yen

Comments


bottom of page