top of page

Utusan China Bertemu Pemimpin Hamas di Qatar, Ada Apa?

Utusan Kementerian Luar Negeri China, Wang Kejian, bertemu dengan Kepala Biro Politik Hamas Palestina, Ismail Haniyeh, di Qatar, Minggu (17/3).



South China Morning Post (SCMP) melaporkan kedua tokoh bertemu untuk "bertukar pandangan terkait konflik di Gaza dan berbagai isu lainnya."



The Jerusalem Post, dengan mengutip Hamas, juga mengabarkan Haniyeh mengatakan kepada sang utusan bahwa perang di Gaza mesti berakhir secepatnya.



Haniyeh juga disebut mengatakan bahwa pasukan militer Israel harus segera angkat kaki dari Gaza dan negara Palestina yang merdeka harus didirikan.



Menurut laporan, Wang dalam pertemuan itu menyampaikan bahwa China "tertarik pada hubungan" dengan Hamas yang disebutnya sebagai "bagian dari tatanan nasional Palestina."




RUDAL: Tale of the Tape Rematch Trump vs Biden di Pilpres AS 2024


Ini merupakan pertemuan perdana antara seorang pejabat China dan pemimpin Hamas sejak agresi Israel dimulai awal Oktober lalu.



Pekan lalu, Wang telah mengunjungi Tepi Barat dan bertemu dengan menteri luar negeri Otoritas Palestina, Riyad al-Maliki. Di sana, Wang juga mendorong solusi dua negara dan menyerukan gencatan senjata.



Wang juga telah bicara dengan kepala biro Asia dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Israel, Hagai Shagrir, serta kepala pusat penelitian kebijakan Kemlu, Rachel Feinmesser.



Sejak agresi pecah, China memang berupaya memainkan peran dalam konflik Gaza dengan menyodorkan makalah lima poin, yang mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menyusun waktu konkret dan peta jalan guna mencapai solusi dua negara.



Seiring dengan ini, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, melakukan percakapan terpisah baik dengan Palestina maupun Israel. Pejabat-pejabat China lainnya sementara itu membahas situasi di Gaza dengan berbagai negara Timur Tengah.



China selama ini tidak mengecam serangan Hamas maupun memasukkan kelompok perjuangan tersebut sebagai organisasi teroris.



Analis pun menilai sikap Beijing ini bisa membuat Israel maupun negara-negara Barat melihat bahwa China tidak adil.





コメント


bottom of page