top of page

Turis Sudah Kembali ke Jepang, tapi... Ada yang Kurang

Wisata Jepang mulai menjanjikan setelah pandemi usai. Tetapi, kembalinya turis ke negeri sakura dinilai belum seroyal dulu.


Dilansir dari Japan Times pada Jumat (21/12/2023), rupanya Jepang mengalami perubahan demografi pengunjung. Jika dulu turis hobi belanja make up dan obat-obatan saat melancong di Jepang, kini tren sudah berubah.



Kebanyakan turis yang datang lebih tertarik untuk membeli kerajinan tangan dan perhiasan tradisional. Pengeluaran rata-rata untuk kerajinan tangan tradisional per pengunjung adalah 13.338 yen atau sekitar Rp 1,4 juta pada kuartal Juli-September.



Badan Pariwisata Jepang melaporkan angka itu naik 80% dari periode yang sama pada 2019. Sementara itu, penjualan kosmetik justru menyusut 30% dalam jangka waktu yang sama.



"Saya menginginkan sesuatu yang bergaya Jepang dan menemukan toko ini di internet," kata Daniel Forrester, salah satu wisatawan di Jepang.



Dia datang dari New York dan membeli kotak kayu di Traditional Crafts Aoyama Square. Kotak itu akan digunakan untuk menyimpan alat tulis.



Salah satu perusahaan yang mendapatkan cuan dari perubahan tren itu adalah Ito-ya, salah satu merk dagang alat tulis legendaris di Jepang, berdiri sejak 1904, dan memiliki toko besar di Ginza. Toko itu menjual pena, buku catatan, dan alat tulis lainnya. Banyak pelanggan yang menemukan toko Ito lewat media sosial.



"Sepertinya kita menjadi tujuan wisata," kata Atsushi Fujiki, manajer Ito-ya.



Sinduja Venkat adalah turis India yang baru-baru ini liburan ke Jepang bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembeli di toko Ito.



"Saya ingin membeli alat tulis untuk digunakan oleh anak saya di sekolah," katanya



Tetapi penjualan benda-benda tradisional Jepang, termasuk alat tulis itu, tidak sebesar penjualan skin care dab obat-obatan. Jika disimak, belanja per turis asing di Jepang masih tertinggal dibandingkan Hong Kong dan Australia.



Pada 2022, turis yang datang ke Jepang hanya membuang uang Rp 34 jutaan per orang. Adapun, turis yang ke Hong Kong mengeluarkan uang Rp 85 jutaan, dan turis yang ke Australia berbelanja sekitar Rp 101 jutaan.



"Jepang kalah dibandingkan negara lain dalam hal entertainment dan layanan wisata," kata Noriko Yagasaki, profesor di Woman's Christian University Tokyo.



Menurutnya, Jepang kekurangan pemandu yang bisa menemani wisatawan berbelanja. Industri pariwisata masih kekurangan tenaga kerja.



Sektor penginapan dan hotel misalnya, mereka melaporkan tingkat kekurangan staf tertinggi yang pernah ada.



"Meskipun jumlah pengunjung merupakan hal yang penting, namun hal ini tidak dapat dikendalikan. Ada kebutuhan untuk fokus pada peningkatan kualitas layanan di tahun-tahun mendatang," kata dia.




bottom of page