top of page

Tari Kemusan bawa kegembiraan, kebanggaan, dan debat di kalangan muda

Mahasiswa dari Guangxi Arts University menampilkan tarian Kemusan selama kegiatan kampus di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang China selatan, 20 Desember 2023. (Xinhua).


Nanning (ANTARA) - Orang-orang melakukan gerakan tari jalanan bergaya bebas dengan mengikuti irama cepat dari sebuah lagu China yang ceria, mengayunkan lutut dan pergelangan kaki mereka ke kiri dan kanan sembari melakukan gerakan tangan yang menarik, termasuk gerakan memutar pergelangan tangan yang sangat cepat.



Tarian yang disebut dengan Kemusan ini, yang berarti tarian "Subjek Tiga", menjadi tren internet terbaru di China. Platform-platform media sosial dibanjiri dengan klip-klip video yang dibuat oleh para pengguna pria dan wanita, penari profesional dan amatir, serta warga China dan asing, yang melakukan gerakan tari "Subjek Tiga" dalam berbagai kesempatan.



Tarian yang menarik itu, beserta gerakannya yang lucu dan spontan, menghadirkan kegembiraan yang luar biasa bagi para pemirsa muda China. Tak hanya itu, tarian baru tersebut juga populer di kalangan warga asing. Namun, seperti tren internet lainnya, Kemusan juga diselimuti kontroversi.



Apa itu Tari Kemusan



Musik Kemusan yang begitu catchy bergema di sebuah studio latihan tari jalanan di Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. Guo Siyuan, guru di studio tari itu, mengatakan kepada Xinhua bahwa beberapa siswa meminta sesi latihan yang dikhususkan untuk tarian Kemusan.



Kemusan sangatlah populer, ujar Guo. Namun, tidak mudah untuk membawakan tarian itu dengan baik mengingat ada banyak gerakan yang berasal dari breakdance.



Gerakan dalam tarian Kemusan secara luas diyakini berasal dari sebuah tarian yang diciptakan dan ditampilkan oleh seorang tamu dalam acara pernikahan dari Guangxi lebih dari dua tahun yang lalu.



Terkait mengapa tarian itu dinamai Kemusan, singkatan dari nama yang mengacu pada tes subjek ketiga atau tes mengemudi yang wajib dijalani untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) di China, diyakini bahwa seorang peserta tes yang sangat bersemangat pernah melakukan tarian tersebut untuk merayakan keberhasilannya usai dinyatakan lulus dalam tes mengemudi. Saat orang-orang yang penasaran menanyakan nama tarian itu, dia meresponsnya dengan jawaban spontan, yaitu tarian "Subjek Tiga".



Penjelasan lainnya meliputi penghormatan terhadap Guangxi, daerah setingkat provinsi dengan populasi multietnis yang besar, yang merupakan tempat asal tarian itu. Diketahui bahwa semua orang yang lahir di Guangxi harus menjadi subjek dalam tiga ujian dalam kehidupan mereka, yaitu menyanyikan lagu rakyat, mengonsumsi mi beras, dan menari.



Menjadi viral



Tarian itu meraih popularitas di sejumlah bar sebelum menyebar ke Douyin, platform video pendek yang populer, dengan tagarnya yang menarik, yakni Kemusan. Tarian itu dengan cepat menjadi tren di kalangan pemuda, baik secara daring maupun luring, memicu gelombang dance challenge, yang diikuti oleh para selebritas dan pemilik bisnis yang mengincar basis penggemar dan prospek komersial di balik demam tarian tersebut.



Pada November, klip video yang menampilkan sejumlah pegawai Haidilao, sebuah jaringan hotpot (hidangan rebusan khas China) yang berulang kali membawakan tarian Kemusan untuk menghibur para pelanggan berhasil masuk dalam jajaran topik paling populer di internet.



Kemusan bahkan memiliki penggemar dari luar negeri, dengan video-video gerakan tarian itu dapat dilihat secara luas di YouTube dan Twitter. Tarian Kemusan yang ditampilkan oleh para penari profesional dari luar negeri sebagai bagian penutup dari penampilan memicu tren media sosial baru di kalangan pengguna internet muda China.



Khrystyna Moshenska dan Marius-Andrei Balan, pemenang WDSF GrandSlam Final Latin 2023 yang berasal dari Jerman, memperagakan tarian Kemusan setelah penampilan mereka di babak final yang digelar di Shanghai. Setelah membawakan tarian "Swan Lake" di Provinsi Liaoning, China, para penari dari rombongan Balet Rusia melakukan curtain call dan menyuguhkan tarian Kemusan.



"Saya menonton banyak klip video yang menunjukkan para penari profesional melakukan gerakan tarian Kemusan, termasuk bintang-bintang tari internasional," kata Zhang Jiajia, warga asli Nanning yang sedang mempelajari gerakan tarian itu. "Dengan melakukannya sendiri, saya merasa lebih dekat dengan mereka."



Menari merupakan ekspresi kepribadian dan emosi kuat yang disukai kalangan muda, dan dengan kecenderungan untuk menjadi viral yang dimiliki oleh media sosial, Kemusan dengan cepat digandrungi komunitas muda, urai Zhang Tieyun, lektor kepala di Fakultas Jurnalisme dan Media Baru di Universitas Jiaotong Xi'an.



Zhang juga menyebutkan perihal pergeseran paradigma di mana orang-orang tertarik pada ekspresi kehidupan sehari-hari yang unik dan menyenangkan.



Menurut Zhang, tren Kemusan yang viral mewakili preferensi terhadap ekspresi pribadi dan emosional alih-alih keteraturan dan narasi tingkat tinggi, serta sebuah penekanan pada kepribadian.



Kendati demikian, beberapa orang berpendapat bahwa gerakan tarian itu merupakan hal yang "norak". Di sisi lain, para pendukungnya berpendapat bahwa Kemusan, meski tidak elegan atau indah, apalagi berkelas, diciptakan dan ditonton oleh masyarakat luas serta dibawakan oleh orang-orang biasa, menjadikannya viral dan bahkan memperoleh pengakuan internasional. Perdebatan tersebut hanya mendorong tren itu menjadi semakin populer.



"Saya senang melihat Kemusan mendunia, dan masyarakat dari negara-negara lain menggemari budaya, musik, dan tarian kita," tutur Chen Ying, warga asli Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan, sembari menambahkan bahwa generasi muda di China semakin percaya diri dan luwes, dan Kemusan dapat menjadi penanda terciptanya masa depan di mana budaya China yang populer kian dikenal di panggung dunia.



bottom of page