top of page

Sejarah Lotus Feet, Tradisi Mematahkan Jari Kaki di Tiongkok


Kebiasaan yang seringkali dilakukan para leluhur biasanya akan diturunkan dan menjadi tradisi bagi generasi selanjutnya. Namun, dalam perkembangan dunia modern, tradisi yang dinilai tidak sesuai perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

Satu di antaranya adalah Lotus Feet, di mana hal ini dilakukan dengan mematahkan jari kaki gadis muda Tiongkok dan mengikatnya untuk mencegah kakinya tumbuh. Kaki kecil yang berbentuk menyerupai kuncup Bunga Lotus ini merupakan simbol kecantikan dan derajat sosial di masa itu.

Berikut 5 fakta mengenai Lotus Feet yang disusun khusus untuk kamu!


1. Tak ada yang tahu pasti kapan kebiasaan ini dimulai


Ada banyak cerita di masyarakat mengenai asal muasal tradisi ini. Namun, awal mula kebiasaan ini bermula tidak diketahui informasinya secara pasti.


Tapi salah satu di antaranya, cerita yang konon berasal dari masa pemerintahan Kaisar Li Yu (961-975) di mana seorang penari cantik bernama Yao Niang memiliki sepasang kaki berbentuk bulan sabit yang mungil. Kaisar yang jatuh hati menikahi Yao Niang dan menjadikannya selir.


Sementara selir lain yang merasa iri mulai mengikat kaki mereka untuk mencegahnya tumbuh dan membuat kaki mereka berukuran kecil. Tak hanya di kalangan bangsawan, kebiasaan ini kemudian menyebar ke seluruh Tiongkok.

2. Dianggap sebagai bentuk kesetiaan, kehormatan, dan kecantikan seorang wanita Para gadis yang akan menikah diharuskan mengikat kakinya agar terlihat menarik. Mereka bahkan melakukan hal ini sejak berusia 4 sampai 6 tahun, saat tulang mereka masih lunak dan mudah dibentuk. Langkah yang tak mudah untuk melakukannya juga menunjukkan bahwa si gadis patuh dan berasal dari keluarga yang terhormat. Tidak seorang pun diizinkan melihat kaki para gadis yang sudah diikat, kecuali pasangan yang menikahinya.


3. Mengolesi kaki dengan rempah-rempah dan mematahkannya


Dalam video dokumenter oleh Jiangli Tian, Cai Yin Ling, seorang wanita berusia 98 tahun bercerita tentang ibunya yang selalu mengikat kakinya dengan kain putih yang sangat panjang. Kaki mereka diolesi dengan minyak rempah-rempah lalu dipatahkan sebelum ditekuk dan diikat pada telapak kakinya. Hal ini dilakukan secara bertahap untuk membentuk kaki lotus.


Terkadang di musim dingin mereka akan keluar rumah dan meletakkan kaki mereka di atas salju karena rasa sakit dan panas yang mereka alami. Tak peduli meski kaki yang diikat membuat mereka kesulitan berdiri dan berlari dengan normal. Beberapa di antara mereka bahkan mengalami infeksi jika melakukan kebiasaan ini dengan proses yang kurang tepat.


4. Tingkatan kasta juga berlaku dalam hal ini Lotus Feet merupakan simbol kecantikan pada masa itu. Oleh karena itu, semakin kecil ukuran kaki seorang wanita maka ia akan dianggap semakin cantik. Seiring dengan hal ini, status sosial yang dimilikinya juga akan semakin tinggi. Lotus Emas dimiliki oleh para wanita dengan kaki yang berukuran kurang dari 3 inci. Sementara Lotus Perak dimiliki oleh para wanita dengan kaki yang berukuran antara 3 sampai 4 inci. Kemudian Lotus Besi diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kaki berukuran lebih dari 4 inci.


5. Kedatangan bangsa barat sepenuhnya menggeser tradisi ini Pada abad ke-19 ketika bangsa barat berdatangan, mulai timbul penentangan terhadap tradisi kaki lotus karena hal ini dianggap membuat warga Tiongkok terutama para wanita jadi menderita. Kemudian ketika tradisi ini benar-benar ditinggalkan, tak sedikit wanita yang menyesal karena pernah mengikat kakinya. Pandangan seketika berubah, terkadang mereka dianggap cacat karena keadaan kaki yang aneh. Bahkan ada pula yang akhirnya ditinggalkan pasangannya karena kaki lotus tak lagi populer seperti dulu.

sumber: https://www.idntimes.com/science/discovery/chimimo-1/sejarah-lotus-feet-c1c2?page=all

bottom of page