top of page

"Salah Banget Ngarep Limpahan Turis China dari Jepang dan Thailand"


Turis China takut berlibur ke Jepang dan Thailand karena alasan keamanan. Pemerhati pariwisata menyebut Indonesia jangan ngarep turis China pindah melancong ke RI.

Awal 2023, Jepang dan Thailand masih menjadi primadona liburan buat turis China. Namun seiring berjalannya waktu, dua negara itu mulai 'ditinggalkan' karena beberapa faktor.


Dilansir dari CNBC, turis China malas ke Thailand karena adanya judi online dan kasus penipuan. Sementara itu, Jepang bukan lagi pilihan favorit turis China sejak pelepasan air limbah radioaktif yang diolah oleh pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke Samudera Pasifik pada bulan Agustus.


Turis China on mengalihkan destinasi wisata ke negara dekat Thailand. Sejauh ini, negara-negara tetangga Indonesia, seperti Singapura dan Malaysia naik ke posisi pertama tujuan turis China.


Bagaimana dengan Indonesia?

Jepang dan Thailand, Dua Negara Populer yang Ditakuti Turis China

Dalam wawancara dengan pengamat kebijakan publik pariwisata, Profesor Azril Azhari, pada Rabu (22/11), detikTravel menanyakan tanggapan terkait kemungkinan limpahan turis China ke Indonesia.


"Saya berkali-kali bilang ke Menteri Pariwisata, paradigma pariwisata dunia itu sudah bergeser. Bukan lagi mass tourism atau quality tourism, tapi sudah ke customize tourism. Saya berkali-kali menyampaikan kita bukan mencari tumpahan turis dari wisata lain, tapi kita harus leader, membuat jalan sendiri," kata dia.


Pria yang akrab disapa Prof Azril itu menilai kelemahan pariwisata Indonesia adalah tidak adanya kajian ilmu dalam pengembangannya. Boleh dibilang, Indonesia memiliki semua 'bahan' untuk menarik minat turis asing, termasuk turis China, tetapi tak mampu menyajikan dengan menarik.


"Customize tourism itu wisata minat khusus yang harusnya terjamah. Misalnya saja health tourism," kata dia.


Health tourism mempunyai empat kategori yang bisa diperdalam oleh pariwisata Indonesia yaitu medical tourism, rehabilitation tourism, wellness tourism, dan gerontologi tourism (lansia).


"Poin medical tourism enggak usah kita ambil, pengobatan kita terkenal jelek. Tapi bisa ambil wellness dan gerontologi, ini banyak pasarnya di Jepang dan Belanda," kata dia.


Wellness tourism Indonesia diyakini mampu bersaing karena memiliki jamu, spa, dan herbal yang sudah ada selama beberapa generasi. Sementara itu, gerontologi adalah peluang dari baru bagi negara-negara yang pernah menjajah Indonesia. Menurutnya, ada banyak lansia Jepang dan Belanda yang rindu kembali ke Indonesia. Ini seharusnya digarap dengan baik oleh pemerintah.


"Ada juga pengobatan secara alternatif, ini sudah berkembang di dunia dan Indonesia enggak ambil," kata dia.


Prof Azril merasa bahwa mengharapkan limpahan turis China dirasa tidak tepat untuk Indonesia. Dia menyebut seharusnya dua negara itulah yang menerima limpahan turis.


"Jadi gini, pariwisata itu ilmu eksak bukan sosial humaniora. Semua harus sesuai dengan data. Sayang, pariwisata kita belom berkembang karena pemerintahnya enggak mau melibatkan akademisi," kata dia.


Indonesia seharusnya bukan sekadar promosi, tapi mendalami setiap bagian pariwisata dengan data dan hasil penelitian.


"Misalnya saja dewa wisata, itu sudah berkembang. Ke desa bukan hanya healing, tapi juga didorong untuk makanan sehat. Ini siapa yang ngangkat, enggak ada," katanya.


Dalam perhitungan Prof Azril, pariwisata yang berbasis dengan penelitian sudah pasti berkembang.


Kemudian ada lagi, soal marine tourism atau wisata bahari. Sejak dulu Indonesia sudah terkenal dengan keindahan alamnya yang tiada dua. Namun, entah kenapa perkembangannya masih begitu-begitu saja.


"Tourist attraction itu terdiri dari 3 poin yaitu uniqueness, keaslian, dan eksotik. Semuanya ada di Indonesia, ini kenapa enggak dijual. Jadi bukan limpahannya ke kita, harusnya limpahan kita ke mereka, kita harus leading pariwisata dunia," kata dia.


Prof Azril jadi salah satu pendiri ilmu pariwisata Indonesia sejak tahun 2008. Dia melakukan perkembangan pariwisata dengan basis penelitian.


"Sampai saat ini belum ada permintaan dari pariwisata untuk menggandeng akademisi. Padahal, ini nantinya bisa dikaitkan dengan eduwisata, seperti penelitian orangutan, hiu paus, cendrawasih dan lain-lain," kata dia.



bottom of page