top of page

Peran Wanita di Negeri Sakura, Jepang.

09-03-2019 Selamat Hari Wanita Internasional yaaa Bambooers, Memang emansipasi wanita sangat dominan diera ini, tapi apa sih peran wanita di negeri-negeri sahabat kita, Jepang. Peran wanita memang tidak terlepas dari peran ibu yang melahirkan kita bukan? atau ada pertanyaan yang lain sosok penurut yang mengabdikan seluruh hidupnya demi keluarga? Atau bahkan menganggap itu suatu kebodohan karena rela berada dalam dominasi mutlak kaum pria? Pada masa sebelum Perang Dunia II, umumnya keluarga Jepang dalam 3 generasi tinggal bersama dalam satu atap. Terdiri dari orangtua, anak-anak bahkan cucu-cucunya. Peran suami sebagai kepala keluarga sangatlah dominan. Semua kata-katanya adalah “hukum” yang wajib dipatuhi seluruh anggota keluarga. Ayah memiliki otoritas penuh untuk menentukan aturan dalam keluarga, mengarahkan pendidikan anak-anaknya, bahkan memberikan ijin bagi pernikahan anak-anak mereka. Peran ayah yang sangat dominan dan sentralistik ini terus tertanam berabad-abad lamanya. Seperti tergambar dalam film “Oshin”.

Sementara seorang istri – yang dalam bahasa Jepang disebut istilah “kanai” – benar-benar memegang peranan mengurus segala hal macam urusan domestik. Sesuai dengan makna kata “kanai” yang dalam literatur artinya “di dalam rumah”, maka “tempat” seorang istri adalah di dalam rumah, Ia melayani suaminya, mengurus orang tua suaminya, merawat dan membesarkan anak-anak mereka serta mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Karena itu, seorang wanita dituntut untuk trampil menguasai berbagai macam keahlian dalam rumah tangga. Namun perang telah membuat norma keluarga Jepang mengalami perubahan. Selama tahun-tahun peperangan, saat makanan sangat sulit didapatkan, ibu rumah tangga di Jepang melakukan segala upaya untuk menjamin agar keluarganya tetap bisa mendapatkan makanan dengan cukup. Mereka dituntut untuk bisa mempertahankan rumah tangganya sementara suami mereka berjuang di garis depan. Mereka juga tidak boleh membebani suaminya dengan kekhawatiran tentang masalah-masalah keluarga mereka.


Sejak masa itu, seorang ayah tak lagi memiliki kekuasaan yang absolut dalam menentukan aturan dalam keluarga. Ibu rumah tangga Jepang modern kebanyakan memiliki hak suara yang setara dengan suaminya dalam masalah keluarga. Bahkan seringkali dalam menentukan pendidikan anak-anaknya, seorang ibu berperan lebih dominan dibanding suaminya. Hal ini kebanyakan karena seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah sehingga jarang berinteraksi dengan anak-anak mereka. Ini menyebabkan anak-anak cenderung lebih dekat secara emosional dengan ibu mereka. Termasuk urusan sekolah, mulai dari persoalan antar- jemput sekolah, sampai menghadiri rapat atau pertemuan di sekolah anak-anak mereka. Kendati sekarang sudah banyak wanita Jepang yang mengenyam pendidikan modern, tapi proporsi wanita yang bekerja di luar rumah masih tetap jauh lebih kecil dibanding kaum pria. Dari sejumlah data statistik yang dirilis lembaga/kementrian terkait tentang Sumber Daya Manusia ada beberapa kecenderungan, antara lain :

1.Prosentase wanita bekerja yang tertinggi ditempati oleh kelompok usia 25 -29 tahun dan baru meningkat lagi pada kelompok usia 40 – 44 tahun dan 45 – 49 tahun.


2.Komposisi wanita bekerja yang lulusan sarjana dan pasca sarjana jauh lebih kecil dibanding wanita lulusan diploma atau sekolah keahlian lainnya, bahkan lebih kecil lagi bila dibandingkan dengan wanita bekerja lulusan SMA dan sederajat.


3.Tingkat partisipasi wanita bekerja dari kurun tahun 1965 – 2002 terus mengalami penurunan, sementara kondisi perekonomian Jepang makin membaik.


Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa stereotype peran ibu sebagai “pengatur rumah tangga” dan “tempatnya di dalam rumah”, masih belum sepenuhnya pupus dalam norma keluarga Jepang modern. 3 simpulan yang bisa diambil adalah : pertama, perempuan bekerja ketika ia belum menikah atau setelah anak-anaknya bisa ditinggal sendiri. Kedua, makin tinggi tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjamin mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja. Ketiga, bahkan ketika kondisi ekonomi makin baik, maka paradigma bahwa wanita perannya di dalam rumah kembali mendapat tempat dalam khasanah keluarga Jepang modern. Itu semua menunjukkan fenomena meski kehidupan di Jepang semakin modern, namun norma-norma yang mereka anut dalam keluarga tetap berpegang pada norma tradisional.


Hal ini menuntut kepiawaian seorang ibu untuk men-transfer pemahaman kepada anak gadisnya tentang peran dan tugas perempuan dalam rumah tangga. Sepanjang pengamatan saya, transfer pemahaman ini relatif tidak menimbulkan cultural shock atau gegar budaya. Ini terbukti dari kerelaaan gadis-gadis Jepang mempersiapkan dirinya dengan cara membekali diri dengan berbagai ketrampilan praktis sebelum memasuki gerbang pernikahan. Bagi mereka yang ingin mengecap kebebasan lebih lama, mereka memilih menunda usia menikah dan memperpanjang masa lajangnya untuk menikmati kebebasan sepenuhnya sebagai wanita bekerja.


Prinsip “keluarga inti” atau “nuclear family” telah menjadi norma pasca perang di kebanyakan rumah tangga Jepang. Dalam keluarga Jepang, anak yang telah cukup usia untuk mandiri – sudah memiliki penghasilan sendiri – umumnya tak lagi tinggal bersama ortunya. Anak yang sudah menikah “wajib” keluar dari rumah dan tak lagi menumpang di “pondok mertua indah”. Demikian pula pasangan lansia kebanyakan menghabiskan sisa hari tuanya sendirian ketimbang bergabung dengan anak-anak mereka. Dengan kondisi sosial seperti itu, tak ada yang bisa dititipin anak saat ibunya bekerja, maka para istri di Jepang memilih berhenti bekerja ketika mereka akan memiliki anak. Kalau masih ingin melanjutkan karirnya, mereka harus sabar menunggu sampai semua anaknya beranjak remaja dan bisa mandiri. Artinya si Ibu sudah berumur 40-an tahun bahkan lebih.

Satu hal yang patut dikagumi dari bangsa Jepang adalah : kendati negara mereka telah maju dan pendidikan telah menyentuh semua lapisan masyarakat, namun para ibu di Jepang dapat dengan sukses ”mentransfer” pemahaman kepada anak-anak gadisnya tentang kodrat wanita dan perannya sebagai istri dan ibu. Sehingga tak terjadi ”gegar budaya” dan ”pemberontakan” dari para gadis Jepang. Dengan sukarela mereka akan mempersiapkan dirinya memasuki gerbang pernikahan dan mengalihkan perannya dari wanita yang bekerja di kantor untuk mencari nafkah menjadi bekerja di rumah untuk melayani keluarga. Sedangkan gadis-gadis Jepang modern yang belum siap melepas ”kebebasannya”, lebih memilih memperpanjang masa lajang dan menunda menikah. Itu sebabnya usia pernikahan gadis Jepang dalam 1 – 2 dasawarsa terakhir ini telah bergeser ke angka 30-an tahun. Kedua pilihan tersebut dan segala konsekwensinya diterima dengan baik oleh para gadis Jepang dan dijalani tanpa menimbulkan pemberontakan terhadap nilai-nilai budaya yang telah tertanam sejak lama. Sehingga tak memunculkan gerakan feminisme yang skeptis.


Mungkin kita pernah dengar sebuah pemeo yang entah dari mana asalnya, konon katanya “Japanese woman is the best woman to be married but Japanese man is the worst man to be married”. Mungkin karena perempuan Jepang dikenal sangat penurut dan mengabdi pada suami dan keluarganya, sedangkan para pria Jepang dikenal sangat workaholic dan kerap kali lebih mendedikasikan dirinya pada pekerjaan dan tempatnya bekerja ketimbang pada keluarganya. Semoga artikel ini bermanfaat yaaa :)




Untuk Info lebih lanjut mengenai pembelajaran bahasa Jepang dapat menghubungi :

Admin : +6285266840608

Admin : +6285266101952

WEB : www.Bamboocyberschool.com

Instagram : Bamboocyberschool

Facebook : Bamboocyberschoo

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Opmerkingen


bottom of page