top of page

Penipu di Jepang Gunakan Rekening Bank Orang Asing untuk Curi Uang

Para penipu di Jepang meraup jutaan dolar dengan mengelabui orang-orang agar mentransfer dana ke rekening bank yang dibeli di pasar gelap. Banyak dari rekening itu menggunakan nama non-Jepang, dengan para penipu itu mengeksploitasi warga asing yang menghadapi kesulitan finansial.


Rekening bank yang dicurigai

Sejauh ini pada 2023, para pelaku kejahatan itu telah mencuri sekitar 200 juta dolar dengan mengelabui orang-orang agar mentransfer dari mesin ATM ke rekening yang didapat secara ilegal.


Kasus-kasus penipuan kerap dimulai dengan panggilan telepon.

Hingga akhir September, sekitar 1.600 rekening mencurigakan telah diidentifikasi oleh polisi. Dari jumlah tersebut sebanyak 312 rekening atau 20 persennya secara jelas menggunakan nama orang asing.


Berbagai kebangsaan tercakup, dengan nama paling banyak digunakan adalah Nguyen yang berasal dari Vietnam. Selanjutnya adalah Tran dan Jang, masing-masing adalah nama Vietnam dan Korea.

Rekening tersebut dibuka di institusi keuangan di Jepang, dari Hokkaido di utara hingga Provinsi Kagoshima di selatan.


Bagaimana hal itu terjadi

Di Osaka pada April, seorang wanita berusia 60-an tahun menerima panggilan telepon dari seorang pria yang mengeklaim sebagai pegawai di kantor pemerintah kota. Wanita itu percaya dengan kebohongan si penelepon itu, yang mengatakan sistem asuransi kesehatan telah berubah dan ia dinyatakan berhak untuk menerima pengembalian iuran.


Wanita itu pergi ke ATM terdekat dan mengikuti instruksi pria tersebut untuk mentransfer sekitar 700 dolar ke rekening yang telah ditetapkan. Saat wanita itu menyadari telah menjadi korban penipuan, ia langsung menghubungi polisi. Tanda terima transfer bank memperlihatkan nama pemilik rekening tujuan transfer adalah Nguyen, tercetak dalam bahasa Jepang.


Nama Nguyen, yang dicetak dalam bahasa Jepang, terlihat dalam tanda terima transfer bank.


Pasar gelap untuk rekening bank

Saat polisi menyelidiki rekening tersebut, petugas menemukan rekening itu dibuka pada Oktober 2016 oleh seorang mahasiswa Vietnam yang telah meninggalkan Jepang pada Januari 2018.

Petugas menduga rekening itu diperdagangkan di pasar gelap rekening bank. Diyakini dalam sejumlah kasus, para mahasiswa asing dan pemagang teknis menjual rekeningnya saat mereka kembali ke negara asalnya.

Peningkatan jumlah rekening mencurigakan yang menggunakan nama orang asing disebabkan oleh tekanan finansial.


Masa sulit

Asosiasi Dukungan Bersama Jepang Vietnam, sebuah LSM yang berbasis di Tokyo dan menyediakan dukungan bagi para mahasiswa serta pemagang teknis Vietnam, menyerukan orang-orang agar berhenti menjual rekening.

Presiden LSM itu, Yoshimizu Jiho, menjelaskan satu kasus terkait wanita Vietnam berusia 20-an tahun yang tengah hamil dan visanya habis. Wanita itu memerlukan bantuan untuk kembali ke negaranya untuk melahirkan.


Seorang wanita Vietnam berusia 20-an tahun (kiri) bersama Presiden Asosiasi Dukungan Bersama Jepang Vietnam Yoshimizu Jiho.

"Saat saya tanyakan apakah ia dapat membeli tiket pesawat, ia katakan bisa dan pergi sambil mengatakan 'tunggu sebentar'," ujar Yoshimizu.

"Saat ia kembali, saya tanyakan ke mana ia pergi, dan ia mengatakan, 'saya pergi ke Distrik Okubo, Tokyo, untuk menjual rekening saya.'"


bottom of page