top of page

Mengenal lebih dekat Hanbok, Baju khas Negeri Ginseng, Korea

22-02-2019 Jika kamu pengagum negeri gingseng, Korea Selatan, kamu tentunya mengenal Hanbok (Korea Selatan) atau Choson-ot (Korea Utara). Nah kali ini kami akan memberikan ulasan lengkap mengenai Sejarah Hanbok khas Negeri Ginseng, Korea. Hanbok sendiri adalah pakaian tradisional masyarakat Korea. Pada umumnya Hanbok memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti “pakaian orang Korea”, hanbok pada saat ini mengacu pada “pakaian gaya Dinasti Joseon” yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional. Pakaian ini umumnya dipakai oleh orang-orang kerajaan. Pakaian tradisional ini memiliki bentuk yang uni dan terkesan menarik. Apalagi jika dilengkapi dengan aksesoris yang semakin menambah kecantikan dari pakaian tersebut.

Sejarah Hanbok khas Korea sendiri dipengaruhi dari tiga kerajaan yang ada di Korea. Hal ini bisa dilihat dari lukisan pada situs makam Goguryeo yang menunjukkan gambar laki-laki dan wanita yang pada saat itu memakai celana panjang yang ketat dan baju yang berukuran sepinggang. Dan rangkaian pakaian yang seperti itu memang hingga kini masih dikenal dan diterapkan. Kemudian pada akhir masa Tiga Kerajaan, mulai sedikit terjadi perubahan. Untuk wanita dari kalangan bangsawan mulai memakai rok berukuran panjang dan baju seukuran pinggang yang diikat di pinggang dengan celana panjang yang tidak ketat, serta memakai jubah seukuran pinggang dan diikatkan di pinggang.


Dan pada masa ini pula Sejarah Hanbok khas Korea yang memakai bahan sutra dari Tiongkok (Dinasti Tang) mulai digunakan. Yang memakai tentu saja para anggota keluarga kerajaan dan juga pegawai kerajaan. Untuk pakaian tradisional para pegawai kerajaan disebut Gwanbok. Sejarah Hanbok khas Korea juga melalui periode Goryeo. Saat Dinasti Goryeo (918–1392) menandatangani perjanjian damai dengan Kerajaan Mongol, raja Goryeo menikahi ratu Mongol dan pakaian pegawai kerajaan pada masa itu akhirnya mengikuti gaya Mongol. Dan perubahan bentuk pakaian ini pun mulai kemabli terjadi, seperti rok (chima) jadi sedikit lebih pendek. Sedangkan Jeogori (baju untuk tubuh bagian atas) diikat ke bagian dada dengan pita lebar, sedangkan lengan bajunya didesain agak ramping.

Perkembangan juga terjadi pada masa Dinasti Jeseon. Pada masa ini jeogori wanita secara perlahan menjadi ketat dan diperpendek. Pada abad ke-16, terjadi perubahan kembali pada Hanbok yaitu jeogori menjadi agak menggelembung dan panjangnya mencapai di bawah pinggang. Namun pada akhir abad ke-19, Daewon-gun memperkenalkan Magoja, jaket bergaya Manchu yang sering dipakai hingga saat ini. Chima pada masa akhir Joseon dibuat panjang dan jeogori menjadi pendek dan ketat. Heoritti atau heorimari yang terbuat dari kain linen difungsikan sebagai korset karena begitu pendeknya jeogori.


Sejarah Hanbok khas Korea juga mempengaruhi jenis bahan yang digunakan oleh kalangan tertentu. Misalnya kalangan atas akan memakai hanbok dari kain rami yang ditenun atau bahan kain berkualitas tinggi, seperti bahan yang berwarna cerah pada musim panas dan bahan kain sutra pada musim dingin. Mereka lebih menggunakan warna yang bervariasi dan terang. Namun untuk rakyat biasa, mereka tidak dapat menggunakan bahan berkualitas bagus karena memang harga yang tinggi membuat mereka tidak sanggup membelinya. Selain pakaian yang begitu menarik, aksesoris pada kepala pun menjadi salah satu hal pendukung saat memakai Hanbok. Aksesoris ini berupa konde yang juha berfungsi sebagai pengencang ikatan rambut. Karena baik pria maupun wanita Korea pada zaman dulu, selalu memelihara rambut mereka menjadi panjang. Pada saat mereka menikah, mereka akan mengkonde rambutnya.

Sejarah Hanbok khas Korea juga membuat pria mengkonde (mengikat) rambutnya sampai atas kepala (sangtu), sedangkan wanita mengkonde sampai batas di belakang kepala atau di atas leher belakang. Ada lagi perbedaan untuk wanita yang berprofesi sebagai penghibur seperti kisaeng. Mereka memakai aksesori wig yang disebut gache. Gache sebenarnya sempat dilarang di istana pada abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, gache semakin populer di antara kaum wanita dengan bentuk yang semakin besar dan berat.


Nah untuk tusuk konde binyeo, ditusukkan melewati konde rambut. Binyeo ini terbuat dari bahan yang bervariasi sesuai kedudukan sosial pemakainya. Tak hanya itu, pada hari pernikahannya, wanita Korea juga mengenakan jokduri dan memakai ayam untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin. Untuk pria menggunkan gat, topi yang dianyam dari rambut kuda, yang juga bervariasi model dan bentuknya sesuai status atau kelas.


Untuk Info lebih lanjut mengenai pembelajaran bahasa Korea dapat menghubungi :

Admin : +6285266840608

Admin : +6285266101952

WEB : www.Bamboocyberschool.com

Instagram : Bamboocyberschool

Facebook : Bamboocyberschool


Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page