top of page

Mengenal Karasu, Komunitas Pencinta Musik Jepang di Cirebon

Suasana ramai menyelimuti acara yang diselenggarakan di lantai dua Grage City Mall Kota Ciebon. Banyak pengunjung yang mulai memenuhi area panggung. Kebetulan saat itu salah satu grup musik lokal yang sering menyanyikan lagu JKT 48 akan tampil di atas panggung.


Event yang digagas oleh komunitas pencinta musik Jepang di Cirebon yang bernama Karasu itu sukses menarik perhatian banyak orang.. Menurut Aldi (26), salah satu penggerak dari komunitas pencinta musik Jepang Karasu mengatakan, event ini tidak lepas dari visi misi Karasu yang ingin memopulerkan lagu Jepang di Cirebon.


"Emang acara ini buat momen kumpul-kumpul bareng banyak komunitas di Cirebon yang memiliki hobi yang sama," kata Aldi (26) Minggu (7/1/2024).


Menurut Aldi, komunitas Karasu sudah ada sejak tahun 2019. Diceritakan Aldi, awalnya Karasu sendiri terbentuk secara tidak sengaja dari kumpul-kumpul lalu sering ketemu di event. "Mulanya tidak saling kenal terus sering ikut-ikut event lalu lama kelamaan makin banyak dan akhirnya kebentuk komunitas," kata Aldi.


Secara spesifik Aldi menyebutkan adanya komunitas Karasu ini adalah untuk mengumpulkan banyak orang yang menyukai genre musik jepang. Apalagi menurut Aldi di Jepang ada banyak sekali genre musik.


"Di Jepang kan banyak genre musik. Nah dari banyak genre musik Karasu ingin menyatukan semua yang suka genre musik Jepang," kata Aldi.


Beberapa genre musik Jepang yang cukup digandrungi diantaranya folk, pop, heavy metal, electro dan masih banyak lagi. Karasu sendiri menurut Aldi dapat diartikan sebagai serangan gagak.


"Karasu seperti serangan gagak yang selalu bersama-sama," kata Aldi.


Ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Karasu seperti dance, latihan dan gathering. Menurut Aldi Hingga hari ini Komunitas Karasu sendiri sudah memiliki member sekitar 80 orang.


Tidak hanya sekedar komunitas yang berisi para penggemar lagu jepang. Lewat komunitas Karasu juga berhasil melahirkan dua grup musik yaitu Noon dan Vocaloud.


"Lahir dua grup musik jepang yang terbentuk dari Karasu, seperti Noon dan Vocaloud," kata Aldi.


Salman Jau Harudin (34) yang merupakan vokalis dari grup band Noon mengatakan, Noon baru terbentuk sekitar tahun lalu pada saat dirinya sedang acara reguler di cafe. "Kenal sama anak-anak Karasu terus diajak collabs akhirnya terbentuknya band namanya Noon. Sekitar tahun kemarin 20 Mei habis Lebaran," kata Salman.


Menurut Salman meskipun dinamai dengan bahasa Inggris Noon yang berarti tengah hari. Namun dalam pengucapan keseharian grup musik Noon sering disebut seperti huruf Nun dalam huruf hijaiah.


"Nah ini yang menarik. Huruf Nun terinspirasi dari ayat pertama Surat Al Qolam dalam Al-Qur'an. Apalagi huruf nun bisa nyambung dengan tajwid manapun," tutur Salman.


Dengan nama yang mirip huruf Nun berharap grup musiknya dapat menjangkau genre lagu apapun. "Seperti halnya huruf nun yang bisa masuk ke huruf manapun," tambah Salman.


Selain itu Salman juga berharap lewat nama tersebut bisa jadi sarana penyampai pesan. "Apalagi dalam lirik dalam lagu Jepang kan banyak filosofinya, jadi kita tidak sembarangan buat ngambil lagu Jepang," kata Salman.


Salman juga menjelaskan perbedaan musik-musik Jepang dengan musik lain. Seperti pas event Kakumei No Yoki kemarin di mana para penampilan menyajikan genre berbeda.


"Noon di akustik folk, lirik lagu yang bertutur dan berkisah, Clover anime song lagu lagu anime kekinian, Kurimusoda, Vocaloud dan Shimmervale itu seperti JKT 48," tutur Salman, Senin (8/1/2024).


Sebagai sebuah komunitas, Aldi berharap lewat komunitas Karasu dapat melahirkan banyak grup musik jepang baru lagi serta ingin membuat event yang lebih besar lagi. Ia juga berharap ke depan agar banyak komunitas tentang Jejepangan dapat bersatu dan berkolaborasi untuk lebih baik lagi. "Pengin semua komunitas itu bersatu dan bareng-bareng bikin event besar lagi," pungkas Aldi.





bottom of page