top of page

Lereng Belanda, Jepang Rasa Eropa di Nagasaki


Sebagai negara yang pernah dijajah Belanda, Indonesia memiliki cukup banyak spot bernuansa kolonial. Tak hanya di Indonesia, bangunan ala Belanda juga menyebar di berbagai negara, salah satunya Jepang.


Selain Belanda, Jepang juga merupakan negara yang juga sempat menjajah Indonesia. Usut punya usut, ternyata Jepang juga sempat memiliki hubungan yang erat dalam perdagangan bersama Belanda. Itu yang menyebabkan ada beberapa bangunan dan kawasan Belanda di Negeri Matahari Terbit.


Melansir Gaijinpot, Senin (20/11/2023), Dutch Slope atau dalam bahasa Jepang yakni Oranda-Zaka adalah spot yang dimaksud. Tempat ini mengacu pada jalan berbatu yang mendaki lereng bukit di Nagasaki, tempat penduduk asing pertama kali tinggal di Jepang.


Banyaknya penduduk asing yang singgah ke sini tak terlepas dari pengaruh dibukanya kota ini untuk perdagangan sejak tahun 1859.


Sebelumnya, Nagasaki dikenal oleh para pengunjung sebagai tempat jatuhnya bom atom kedua pada Perang Dunia Kedua. Namun, sebagai penghubung perdagangan maritim dengan Portugis dan Belanda sejak akhir tahun 1500-an kota ini telah lama menjadi salah satu jendela utama Jepang ke dunia luar.


Portugis adalah kekuatan perdagangan besar pertama yang singgah di Nagasaki. Sehingga tempat ini banyak terpengaruh oleh budaya Eropa yang bertahan lama. Sontak muncul pula hidangan yang bernuansa barat, seperti kue bolu castella.


Namun, perdagangan Belanda di Nagasaki juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap Jepang. Tepatnya setelah Portugis diusir pada 1638 karena kekhawatiran atas penyebaran agama Katolik, Belanda menetap di pulau tersebut dan menikmati hubungan perdagangan yang istimewa.


Kerjasama tersebut terjalin selama hampir dua abad hingga awal Era Meiji.


Lereng Belanda, adalah daerah perbukitan tempat penduduk asing menetap setelah Nagasaki dibuka untuk perdagangan. Tempat ini adalah bukti dari hubungan panjang ini. Selain itu, dinamakan sebagai Oranda-Zaka adalah karena pada masa itu, orang barat yang tinggal di sini dikenal sebagai Oranda-jin (orang Belanda) di Jepang.


Higashi Yamate 13

Berkunjung ke sini traveler bisa mencicipi kopi Belanda dan sandwich kue castella khas Nagasaki.


Dengan jalan berbatu dan rumah-rumah tua bergaya barat, Dutch Slope terasa seperti ke Jepang yang berbeda, karena banyak bangunan dan ornamen yang terpapar gaya Eropa. Untuk menyelami lebih dalam sejarah yang kaya di sini, traveler bisa berkunjung ke dua bangunan yang terbuka untuk umum.


Misalnya adalah Higashi Yamate 13. Tempat ini adalah bekas kediaman keluarga kaya dari barat yang telah dilestarikan. Proses pelestariannya disebut dilakukan dengan hati-hati dengan tata letak kamar dan perabotan asli yang masih utuh di lantai dua. Sedangkan pada lantai pertama, traveler akan menemui daun berbentuk hati di taman yang menjadi spot foto favorit pengunjung.


Higashi Yamate 12

Bangunan lain yang dibuka untuk umum adalah Higashi Yamate 12. Bangunan bergaya barat ini berwarna biru. Merupakan rumah bagi konsulat Rusia dan Amerika di sepanjang sejarahnya.


Sekarang, gedung ini menyimpan banyak catatan sejarah tentang banyak sekolah swasta bergaya barat yang tersebar di area ini pada zaman Meiji. Sebagai bangunan barat tertua di distrik Yamate dan dibangun pada tahun 1868, bangunan ini layak untuk dikunjungi!


Baca artikel detikTravel, "Lereng Belanda, Jepang Rasa Eropa di Nagasaki" selengkapnya https://travel.detik.com/international-destination/d-7047640/lereng-belanda-jepang-rasa-eropa-di-nagasaki.



bottom of page