top of page

Kondisi Alibaba Mencemaskan Tanpa Jack Ma


Alibaba Group tengah mengalami masa-masa yang sulit saat ini. Perusahaan e-commerce asal Negeri Tirai Bambu itu terancam kehilangan posisi sebagai perusahaan e-commerce paling bernilai di sana. Pasalnya, muncul perusahaan baru yang berusia 8 tahun, Pinduoduo (PDD Holdings) yang menunjukkan performa impresif.


Dikutip dari detikInet, ketika nilai pasar Alibaba merosot jadi sekitar USD 187 miliar di Hong Kong, PDD Holdings ditutup hampir 2% lebih tinggi di New York, mencapai USD 188,3 miliar. Pergeseran ini menandai perubahan signifikan dari dominasi Alibaba yang dipimpin Jack Ma terhadap industri internet China selama lebih dari satu dekade.


Jack Ma sudah cukup lama resign dari Alibaba dan belakangan ini juga jarang tampil setelah mengkritik sistem keuangan China. Tapi, dikutip dari WION, kondisi Alibaba tampaknya membuatnya cemas.


Jack Ma pun secara mengejutkan menghadiri forum internal Alibaba untuk mengakui kebangkitan PDD dan meminta karyawan Alibaba yang berjumlah besar untuk memperbaiki arah dan mendapatkan kembali momentum.


"Setiap perusahaan besar lahir di musim yang sulit. Seiring dengan dimulainya era AI untuk e-commerce, ini menjadi kesempatan bagi semua orang sekaligus menjadi tantangan," kata Ma.


Pernyataan publik yang jarang disampaikan Ma itu menggarisbawahi gawatnya situasi dan tantangan yang dihadapi Alibaba setelah tindakan keras Beijing terhadap sektor teknologi pada tahun 2020.


"Anda dapat mengatakan bahwa Alibaba berpuas diri mengingat mereka memiliki banyak keunggulan namun mereka tidak mengeksekusi atau berinovasi secepatnya," cetus Bey Sern Ling, pengamat di Union Bancaire Privee.


Alibaba, yang pernah dianggap sebagai kandidat utama China untuk menjadi perusahaan bernilai triliunan dolar, kini menghadapi masa bergejolak. Sahamnya diperdagangkan pada titik terendah tahun ini, dari puncaknya pada tahun 2020.


Sementara PDD menarik perhatian investor dengan pertumbuhan mengesankan dan ekspansi global agresif, meskipun kenaikan biaya pemasaran menekan margin.


Minggu ini, PDD melaporkan lonjakan saham 18% menyusul peningkatan pendapatan dua kali lipat, dipicu kesuksesan aplikasi belanja Temu. Selama festival belanja Singles' Day, PDD melampaui Alibaba dengan perkiraan pertumbuhan transaksi sebesar 20%.


Strategi PDD, khususnya dengan Temu, mencerminkan kekuatan disruptif dalam e-commerce global, menantang pendekatan tradisional Alibaba terhadap pasar luar negeri. Tetapi tentu saja Alibaba belum mengaku kalah.


"Orang bisa berargumentasi bahwa Alibaba mempunyai peluang dan tidak memanfaatkannya, namun dalam beberapa kuartal terakhir, bisnis internasional Alibaba juga telah berkembang sangat pesat," sebut Ling.



bottom of page