top of page

Jepang Terjun ke Jurang Resesi, Kinerja Ekspor RI Terancam

Perekonomian Jepang dikabarkan jatuh ke dalam resesi akibat penurunan pertumbuhan Produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2023. Situasi tersebut berpotensi berdampak terhadap kinerja ekspor asal Indonesia.


Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Tauhid awalnya menjelaskan perekonomian Jepang mengalami resesi karena melambatnya pertumbuhan ekonomi.


Pada 2024, PDB Jepang diprediksi hanya tumbuh 1%, ini menurun dari capaian PDB Jepang pada 2023 yang berkisar di angka 1,4%. Hal ini dinilai Ahmad berpotensi mengganggu kinerja ekspor Indonesia.


"Resesi berdampak cukup strategis terhadap kinerja ekspor. Jepang adalah negara tujuan ekspor keempat terbesar Indonesia setelah China, Amerika, dan India," ucap Ahmad saat dihubungi detikcom, Kamis (15/2/2024).


Ahmad kemudian merinci jumlahnya. Kontribusi Jepang berjumlah sebanyak 8,41% dari total ekspor Indonesia. Angkanya memang jauh lebih rendah dari China (23%), Amerika (10,21%), dan India (8,44%), namun tetap saja hal tersebut dinilainya berdampak signifikan.


Di sisi lain, Ahmad mencatat Jepang adalah salah satu negara yang kerap menaruh investasi di Indonesia. Pemerintah Jepang disebutnya sering memberi pinjaman bilateral kepada pemerintah.


"Jadi kalau (perekonomian) mereka lagi terganggu mereka pasti menahan ekspansi investasi, pinjaman, dan sebagainya," ungkapnya.


Diwawancarai terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, merinci sejumlah komoditas Indonesia yang diekspor ke Jepang. Komoditas tersebut adalah sebagai berikut:


Daftar Komoditas Ekspor RI ke Jepang


Batubara, US$ 8,8 miliar atau Rp 137 triliun (kurs Rp 15.614)


Komponen Elektronik, US$ 1,5 miliar atau Rp 23 triliun


Nikel, US$ 1,2 miliar atau Rp 28 triliun


Perhiasan, US$ 1,2 miliar atau Rp 28 triliun


Hasil Olahan Kayu dan Turunannya, US$ 1 miliar atau Rp 15,6 triliun


Karet dan Otomotif, US$ 1 miliar atau Rp 15,6 triliun


Perikanan, US$ 509 juta atau Rp 7,9 triliun


"Ini daftar barang barang (ekspor Indonesia) yang mungkin akan terdampak (resesi Jepang) karena nilainya sangat besar," pungkasnya.




Comments


bottom of page