top of page

Ekonomi Jepang Ambruk, Bagaimana Nasib Ekspor Ikan RI?

Jepang yang sebelumnya menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia, kini harus kehilangan mahkotanya. Neggeri Sakura itu melaporkan terjadi kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

Ekonomi turun 0,4% secara tahunan pada kuartal IV-2023, sebelumnya negara ini juga melaporkan kontraksi atau minus 3,3% pada kuartal III-2023.

Lantas, bagaimana dengan nasib ekspor produk kelautan dan perikanan RI ke negara tersebut?

Tak bisa dipungkiri, Jepang merupakan salah satu market terbesar produk perikanan Indonesia. Bahkan Jepang memberikan banyak insentif bagi produk perikanan Indonesia seperti pembebasan bea impor sampai 0%.


Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Budi Sulistyo mengatakan, kontraksi selama dua kuartal berturut-turut secara teknis dapat dianggap sebagai indikasi ekonomi Jepang berada dalam resesi. Ia juga menyebut resesi yang terjadi di Jepang dapat berdampak terhadap penurunan ekspor produk perikanan Indonesia ke negara tersebut.


"Resesi di beberapa negara maju seperti Jepang menunjukkan dampak terhadap penurunan impor produk perikanan dari global (ke Jepang), termasuk Indonesia," kata Budi kepada CNBC Indonesia, Selasa (27/2/2024).


Budi melansir data dari Biro Statistik Jepang, rata-rata pengeluaran konsumsi Jepang secara bulanan per rumah tangga pada bulan Desember 2023 sebesar 329.518 yen, atau turun 2,5% dari tahun sebelumnya. Sementara pengeluaran konsumsi pangan bulanan turun 1,3% dibanding tahun sebelumnya.


Ia juga melansir data ITC Trademap, dipaparkan impor produk perikanan Jepang pada Desember 2023 turun 15,65% dengan komoditas impor yang mengalami penurunan, antara lain salmon-trout (-30,84%), udang (-7,44%), TCT (-39,51%), cumi-sotong-gurita (-10,90%), dan catfish (-13,26%) dibandingkan Desember 2022.


Sementara berdasarkan data BPS RI, ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang pada Desember 2023 turun 10,32% dengan komoditas yang mengalami penurunan antara lain udang (-14,68%), TCT (-11,09%), rajungan-kepiting (-52,87%), dan rumput laut (-48,12%).

"Tidak menutup kemungkinan resesi dapat juga terjadi di negara maju lainnya seperti Amerika Serikat dan negara anggota Uni Eropa. Namun demikian, terdapat peluang peningkatan ekspor di pasar Tiongkok, Timur Tengah dan Hong Kong, dimana ekspor produk perikanan Indonesia cenderung meningkat," jelasnya.


Berdasarkan data BPS yang diolah PDSPKP, lanjut Budi, ekspor produk perikanan Indonesia ke China pada Desember 2023 naik 18,19% dengan komoditas yang mengalami kenaikan atau penurunan antara lain cumi-sotong-gurita (naik 64,84%), rumput laut (turun 43,32%), layur-gulama (naik 135,81%) udang (turun 38,98) dan rajungan-kepiting (naik 150,68%).


Tak hanya ekspor produk perikanan Indonesia ke Tiongkok yang mengalami kenaikan, ekspor produk perikanan RI ke Uni Eropa pada Desember 2023 juga mengalami kenaikan, yakni naik 14,07%, dengan komoditas yang mengalami kenaikan atau penurunan, antara lain cumi-sotong-gurita (naik 43,23%), udang (turun 5,44%), rumput laut (turun 23,46%), TCT (naik 28,98%), paha kodok (naik 24,35%), tilapia (119,44%), dan rajungan-kepiting (turun 14,08%).


Comments


bottom of page