top of page

Ekonomi China Terguncang, Ini Dampaknya bagi Dunia


Perekonomian China telah diterpa berbagai permasalahan. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti kejatuhan sektor properti di Negeri Tirai Bambu, di mana raksasa real estate Evergrande harus bangkrut dengan utang US$ 300 miliar atau Rp 4.650 triliun (kurs Rp 15.500).

Meskipun masalah ini menjadi momok terbesar bagi Beijing, nyatanya hal tersebut dampak menjadi bola salju bagi dunia. Beberapa pihak menduga bahwa krisis tersebut dapat berdampak ke negara-negara lain.

Para analis yakin kekhawatiran akan terjadinya bencana global terlalu berlebihan. Namun perusahaan multinasional, pekerjanya, dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan China kemungkinan besar akan merasakan setidaknya sebagian dampaknya.


"Jika masyarakat China mulai mengurangi makan siang di luar, misalnya, apakah hal itu akan berdampak pada perekonomian global?," ujar Deborah Elms, direktur eksekutif Asian Trade Center di Singapura, kepada BBC News, Jumat (29/9/2023).

"Jawabannya tidak sebanyak yang Anda bayangkan, namun hal ini tentu saja berdampak buruk bagi perusahaan-perusahaan yang secara langsung bergantung pada konsumsi domestik China.


Ratusan perusahaan besar global seperti Apple, Volkswagen, dan Burberry, yang mendapatkan banyak pendapatan dari pasar konsumen China pun akan terdampak oleh berkurangnya pengeluaran rumah tangga. Dampak selanjutnya akan dirasakan oleh ribuan pemasok dan pekerja di seluruh dunia yang bergantung pada perusahaan-perusahaan tersebut.


Lembaga pemeringkat kredit AS, Fitch, mengatakan bulan lalu bahwa perlambatan China "membayangi prospek pertumbuhan global" dan menurunkan perkiraannya untuk seluruh dunia pada tahun 2024.

Namun, menurut beberapa ekonom, gagasan bahwa Negeri Panda adalah mesin pertumbuhan ekonomi global adalah hal yang berlebihan.

"Secara matematis, ya, China menyumbang sekitar 40% pertumbuhan global," kata George Magnus, ekonom di China Centre, Universitas Oxford.


"Tetapi siapa yang diuntungkan oleh pertumbuhan tersebut? China mengalami surplus perdagangan yang sangat besar. China mengekspor jauh lebih banyak daripada mengimpor, jadi seberapa besar China tumbuh atau tidak tumbuh sebenarnya lebih disebabkan oleh China dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia."

Namun demikian, penurunan pengeluaran China mulai terasa. Pada bulan Agustus, negara ini mengimpor hampir 9% lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika negara tersebut masih menerapkan pembatasan Covid-19.


"Eksportir besar seperti Australia, Brasil, dan beberapa negara di Afrika akan terkena dampak paling parah akibat hal ini," kata Roland Rajah, direktur Pusat Pembangunan Indo-Pasifik di Lowy Institute di Sydney.

Lemahnya permintaan di China juga berarti harga di sana akan tetap rendah. Dari sudut pandang konsumen Barat, hal ini merupakan cara yang baik untuk membatasi kenaikan harga tanpa harus menaikkan suku bunga lebih lanjut.


"Ini adalah kabar baik bagi masyarakat dan dunia usaha yang berjuang menghadapi inflasi yang tinggi," tambah Rajah. "Jadi dalam jangka pendek, konsumen awam bisa mendapatkan keuntungan dari perlambatan China. Namun ada pertanyaan jangka panjang bagi masyarakat di negara berkembang."


Investasi Lesu

Selama 10 tahun terakhir, Beijing telah menginvestasikan lebih dari US$ 1 triliun dolar dalam proyek infrastruktur besar yang dikenal sebagai Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative).

Lebih dari 150 negara telah menerima uang dan teknologi China untuk membangun jalan, bandara, pelabuhan, dan jembatan. Menurut Rajah, komitmen Beijing terhadap proyek-proyek ini mungkin mulai terganggu jika masalah ekonomi terus berlanjut di dalam negeri.

"Sekarang perusahaan-perusahaan dan bank-bank China tidak akan mempunyai dana finansial yang sama untuk disalurkan ke luar negeri," katanya.


Perubahan Konstelasi Geopolitik

China yang lebih rentan, menurut beberapa orang, mungkin berupaya memperbaiki hubungan yang rusak dengan Amerika Serikat (AS). Pembatasan perdagangan Washington turut berkontribusi terhadap penurunan ekspor China ke Amerika sebesar 25% pada paruh pertama tahun ini.


Namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pendekatan China melunak. Beijing terus membalas dengan pembatasannya sendiri, sering kali mengecam "mentalitas Perang Dingin" Barat, dan tampaknya menjaga hubungan baik dengan para pemimpin yang terkena sanksi, seperti Vladimir Putin di Rusia dan Bashar Al-Assad di Suriah.


Pada saat yang sama, sejumlah pejabat AS dan Uni Eropa (UE) terus melakukan perjalanan ke China setiap bulan untuk melanjutkan pembicaraan mengenai perdagangan bilateral.

Salah satu gambaran yang lebih ekstrim mengenai ketidakpastian ini datang dari para pengamat yang bersikap agresif di Washington, yang mengatakan bahwa penurunan perekonomian China dapat berdampak pada cara Beijing menangani Taiwan, yang diklaim sebagai wilayahnya.


Berbicara awal bulan ini, Anggota Kongres dari Partai Republik Mike Gallagher, ketua Komite Pemilihan DPR AS untuk China, mengatakan masalah di dalam negeri membuat pemimpin China Xi Jinping "kurang dapat diprediksi" dan dapat membuatnya "melakukan sesuatu yang sangat bodoh" sehubungan dengan Taiwan.


sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20230929124235-4-476467/ekonomi-china-terguncang-ini-dampaknya-bagi-dunia

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Jepang, AS, Korsel Diskusikan Pergerakan Mata Uang

Para menteri keuangan Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan menyatakan akan terus berkonsultasi erat mengenai perkembangan pasar valuta asing. Komentar tersebut disampaikan setelah mata uang yen

Σχόλια


bottom of page